Wednesday, 13 January 2021

Kisah Mengharukan Dari Penumpang Pesawat Sriwijaya Air


Kisah ini di alami beberapa penumpang pesawat Sriwijaya Air yang gagal berangkat akibat beberapa kendala yang bisa kita ambil hikmahnya.

Hikmah Di Balik Sebuah Kegagalan Sebagai Bagian Dari Takdir Allah

1. Namanya Rachmawati
Ia orang Mempawah, Kalimantan Barat. 
35 tahun silam, ia pernah jadi Qoriah Internasional. Kini bekerja sebagai pegawai di Kemenag RI.

Sabtu siang, Ia sudah bersiap menuju 
bandara dan hendak terbang ke Pontianak. 
Tiket sudah dipesan. Pesawatnya Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182. Berangkat pukul 14.00 WIB.

Hanya saja, hasil tes PCR-Swabnya telat keluar. 
Layanan kesehatan tempatnya tes Covid baru 
bisa mengeluarkan resume medis, Sabtu siang, atau nyaris bertepatan dengan jadwal take off. 

Rachmawati pasrah. Ia memilih membatalkan keberangkatan, dan memesan tiket maskapai lain untuk terbang Minggu, pagi. Kini ia merasa sangat bersyukur. Gara-gara hasil PCR-nya telat keluar, ia terhindari dari tragedi. Tuhan belum melist-nya dalam daftar sebagai korban Sriwijaya Air yang jatuh, Sabtu (9/1) kemarin.

2. Atma Budi Wirawan
Punya kisah berbeda. Bersama tujuh anggota keluarganya, mereka sudah memesan dan membeli tiket Sriwijaya Air untuk terbang ke Pontianak, Sabtu siang. 

Begitu mendengar bahwa semua penumpang yang hendak terbang ke Kalimantan Barat harus mengantongi hasil tes swab Covid-19, Budi dan keluarganya dilema.

Delapan orang itu sama dengan 9,6 juta rupiah.
Mereka lalu berembuk. Kesepakatannya, tiket pesawat biarkan hangus. Mereka memilih naik kapal Pelni. Harganya Rp.220 rb perorang, jauh lebih murah dari biaya PCR. Meski harus melewati perjalanan panjang dan mungkin lelah karena berlayar, opsi itu dipilih demi menghindari tes swab.Minggu pagi , mereka tiba di Pontianak. Mendengar informasi soal tragedi Sriwijaya Air, semuanya tertegun.

Andai tetap ngotot untuk terbang dan tidak mempersolkan biaya tes swab, bisa saja situasinya berbeda bagi mereka.

3. Kisah Agustiawan
Beda lagi ia mahasiswa asal Pontianak. 
Sabtu siang, ia berencana pulang kampung. 
Tiket sudah ia pesan, bahkan telah tiba di bandara. Menjelang terbang, ia mendadak ditelepon ibunya. Ia dilarang pulang, dan diminta fokus mengurusi ujian akhir semesternya,perintah ibu ia turuti, ia lolos dari tragedi.

4. Pramugari Sriwijaya Air
Ananda Lestari dijadwalkan ikut dalam penerbangan itu. Namun tiba-tiba rutenya dipindahkan ke tujuan Makassar. Akhirnya dia selamat dari tragedi itu.

Kisah-kisah ini dikutip dari portal berita nasional yang relatif kredibel. Insya Allah informasinya bisa dipercaya. Orang-orang yang lolos dari maut itu adalah cerminan bagi kita semua, bahwa takdir memang tidak bisa diundur dan tidak bisa dimajukan.

Tuhan sudah mengatur semua panggung manusia.

Dalam Al Qur’an Surat Al A’raf ayat 34, 
Tuhan memperingatkan manusia. Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”

Masing-masing dari kita hanya sedang menjalani takdir. Segalanya sudah tertulis di Lauful Mahfuz, dan tidak bisa diotak-atik lagi. Manusia memang berhak untuk merencanakan, tapi yakinlah bahwa takdir telah menciptakan momentum bagi kita.

Jadi bersiap-saiplah dengan bekal amal sholeh, sebelum kita ada dalam list yang di pegang Malaikat Izrail.

Semoga proses pencarian terhadap semua korban tragedi Sriwijaya Air dimudahkan dan menemukan hasil terbaik.

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home