Sunday, 22 November 2020

Konsep Tyasbih Memahami Tuhan Dengan Sifatnya

Memahami Tuhan Melalui Sifat-sifat Nya

Sebelumnya saya pernah menulis perihal memahami Tuhan melalui jalur teologi negatif atau tanzih. Di situ saya jelaskan perihal salah satu alternatif dalam menalar Tuhan di tengah kesulitan kita dalam menjelaskan zat “The Great Unknow”, Yang Besar tapi tak dikenal itu, yakni dengan cara membedakannya dari makhluk-makhluknya.

Dalam diskurus para teolog Muslim, masih ada jalur lain yang bisa ditempuh untuk memahami Tuhan. Jika sebelumnya melalui jalan tanzih atau membedakan. Maka jalur satunya lagi, yang akan dibahas di sini adalah melalui jalur tasybih, yakni kesamaan yang ada antara Tuhan dengan makhluk-makhluk-Nya.

Titik keserupaan (tasybih) ini tidak terletak pada level esensi atau zat dari Tuhan. Keserupaan Tuhan dengan makhluk ini dimungkinkan melalui sifat-sifat-Nya yang termaktubkan dalam ayat-ayat (tanda-tanda) dalam nash.

Titik pemahaman teologis ini berangkat dari landasan filosofis bahwa penalaran terhadap segala sesuatu, termasuk Tuhan, ia akan mungkin dipahami hanya melalui hal-hal yang menyerupainya. Kita tidak akan mungkin memahami entitas tertentu, jika kita tak memiliki titik kesamaan yang menjadikan kita bisa menalar dan memahaminya.

Prof. Mulyadhi Kartanegara melalui bukunya Lentera Kehidupan: Panduan Memahami Tuhan, Alam dan Manusia (2016) mengatakan bahwa sesuatu itu bisa dikenal apabila antara subjek yang mengenal dan objek yang dikenali, memiliki keserupaan.

Alasan manusia tak bisa memahami zat (esensi) Tuhan adalah karena, manusia sebagai subjek tak ada sama sekali keserupaan dengan objeknya yang esensinya sangat Maha Kuasa. Maka dari itu, jalan lain yang bisa ditempuh adalah melalui menalar sifat-sifat Tuhan yang tanda-tandanya sering dinukilkan dalam nash.

Prof. Mulyadhi (2016) mencontohkan bahwa kita sebagai manusia mampu menalar sifat “tahu” Tuhan, karena kita juga pada level yang lebih rendah memiliki sifat “tahu” tersebut. Begitu pula dengan sifat-sifat Tuhan lain.

Dulu, ketika mengaji di pesantren, ada pelajaran dari kitab-kitab Tauhid Sunni tentang sifat-sifat Tuhan. Sifat-sifat Tuhan itu berjumlah 99 sifat atau disebut sebagai Al-Asma’ Al-Husna. Kemudian, sifat-sifat itu diperas lagi menjadi 20 sifat wajib Allah Swt.

Prof. Mulyadhi (2016) menyampaikan bahwa Nabi Muhammad Saw pernah menganjurkan kepada manusia untuk berakhlak seperti perangainya Tuhan: “Berakhlaklah dengan akhlak Allah.” Anjuran itu tak lain adalah sebuah keabsahan dan sekaligus (jalan) kemungkinan bagi kita untuk mengenal Tuhan melalui sifat-sifat-Nya.

Konsep tasybih, memahami Tuhan melalui sifat-sifat-Nya ini merupakan tradisi teologis Asy’ariyah atau Sunni. Para teolog Mu’tazilah tak sepakat dengan pandangan-pandangan ini. Bagi mereka, antara zat dengan sifat tidaklah boleh dibedakan, keduanya menyatu.

Menurut mereka, jika antara zat (esensi) dengan sifat dibedakan, maka akan terjadi penumpukan atau ketersusunan (tarkib) di dalam sifat Tuhan. Pemahaman demikian ini sangat diperngaruhi oleh tradisi filsafat Yunani kuno tentang konsep kesatuan Tuhan atau ke-esa-an Tuhan.

Pandangan demikian ini juga tampak dari filusuf Muslim era awal seperti Ibn Sina dan al-Farabi. Kedua filusuf itu, kita ketahui, cukup banyak mengambil khazanah filsafat Yunani kuno untuk menjelaskan pemikiran Islam. Ibn Sina dan Farabi mendapatkan akses filsafat Yunani kuno sejak zaman proyek penerjemahan buku-buku Yunani kuno ke dalam bahasa Arab era Baitul Hikmah.

Demikian inilah penjelasan perihal konsep tasybih dalam tradisi Sunni untuk menjelaskan eksistensi Tuhan melalui sifat-sifat-Nya. Konsep itu menjadi salah satu bagian khazanah yang menarik dan terus hidup dalam pemikiran keislaman kontemporer. Wallahua’lam.

Labels:

Apakah Allah Mempunyai Tangan? Ini Penjelasan Untuk Kaum Mujasimah!

Apakah Allah Mempunyai Tangan? Ini Bantahan untuk Para Kaum Mujassimah

Salah satu perkara aqidah yang paling sering jadi polemik dan disalahpahami adalah mengenai ayat-ayat al Quran yang sepintas menggambarkan bahwa Allah punya anggota tubuh. Salah satunya adalah tentang kata “yadullah” yang mengisyaratkan Allah mempunyai tangan sebagimana aqidah para kaum Mujassimah. Lantas apakah benar bahwa Allah mempunyai tangan dalam artian secara fisik?

Dalam perkara Aqidah ini perlu dikaji secara khusus apakah betul makna “yadullah” di dalam al Quran atau hadits adalah bahwa Allah mempunyai tangan secara fisik (dalam arti organ tubuh).

Mengatakan bahwa Allah mempunyai tangan dalam bentuk fisik ini adalah kesalahan fatal. Oleh karenanya aqidah Mujassimah ini disepakati sebagai salah satu aqidah yang menyimpang oleh para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah.

Kata “yadullah” dalam al-Qur’an terdapat di berbagai ayat, contohnya sebagaimana berikut:

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ [ص: 75]

(Allah) berfirman, “Wahai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku.(QS. Shad: 74)

Dalam ayat diatas terdapat kata “yadayya” yang secara harfiah berarti “kedua tangan”. Para Mujassimah mengartikannya secara harfiah sebagai organ tangan yang dikenal manusia, hanya bentuknya saja yang berbeda. Apakah benar maksudnya itu adalah kedua tangan Allah?

Secara objektif, sebenarnya dari ayat di atas yang konteksnya tidak sedang membahas tangan secara fisik.

Potongan ayat dari surat Shad 74 diatas membahas mengenai spesialnya penciptaan Nabi Adam dibanding makhluk lainnya sehingga secara khusus disebutkan dengan istilah “diciptakan dengan kedua tangan Allah”.

Karena sejatinya, semua makhluk diciptakan dengan cara yang sama sebagaimana disebutkan dalam berbagai ayat, yakni cukup Allah berkehendak untuk menjadikan sesuatu, kun fayakun, maka seketika itulah apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi.

Selain itu soal penciptaan Adam, Allah juga menjelaskan secara jelas bahwa prosesnya, tidak memakai organ fisik yang bernama tangan. Allah berfirman:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.(QS. Ali Imran: 59)

Jadi cukup jelas bahwa kata “yadayya” diatas sama sekali bukan menunjukkan makna bahwa Allah mempunyai tangan dalam arti fisik. Kemudian mari kita lihat ayat lain di bawah ini.

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ

Dan orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu.” Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu, padahal kedua tangan Allah terbuka; Dia memberi rezeki sebagaimana Dia kehendaki.(QS. Al-Maidah: 64)

Ayat Al-Maidah: 64 di atas sama sekali ayat ini tidak membahas pose tangan, bahkan sama sekali tidak berbicara soal tangan dalam arti fisik. Ayat ini membahas tentang kedermawanan Allah yang diungkapkan dengan istilah “kedua tangan Allah terbuka”. Hal ini menjadi rancu apabila ayat ini dimaknai secara literal mengenai tangan Tuhan apakah terbelenggu ataukah terbuka lebar.

Berlanjut contoh ayat berikutnya;

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللهَ يَدُ اللهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ [الفتح: 10]

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. (QS. Al-Fath: 10)

Makna Tangan Allah di atas tangan mereka dalam Surat Al-Fath: 10 ini hanya membahas tentang kuatnya perjanjian kaum muslimin yang dibuat dengan cara berbaiat berjabat tangan kepada Nabi Muhammad Saw yang diibaratkan seolah itu adalah baiat langsung kepada Allah Swt.

Maka sangat absurd bila kemudian ayat ini dimaknai secara literal sebagai posisi tangan Allah berada di atas tangan Nabi Muhammad dan kaum muslimim. Bahkan, tidak ada faedah apa pun dengan menjelaskan posisi tangan Allah (dalam arti fisik) dalam kaitannya dengan baiat yang dilakukan kaum muslimin pada Nabi.

Makna “Yadullah” Menurut Imam Hambali
Menurut Imam Ahmad bin Hanbal memaknai kata Yadullah dengan tangan Allah dalam arti fisik ini jelas salah. Sebab dengan memaknai semacam ini sama saja dengan mengatakan bahwa Dzat Allah adalah jism (sosok tiga dimensi yang mempunyai ukuran panjang, lebar dan tinggi secara fisik). Imam Hambali mengatakan:

كَانَ يَقُول إِن لله تَعَالَى يدان وهما صفة لَهُ فِي ذَاته ليستا بجارحتين وليستا بمركبتين وَلَا جسم وَلَا جنس من الْأَجْسَام وَلَا من جنس الْمَحْدُود والتركيب والأبعاض والجوارح وَلَا يُقَاس على ذَلِك لَا مرفق وَلَا عضد وَلَا فِيمَا يَقْتَضِي ذَلِك من إِطْلَاق قَوْلهم يَد إِلَّا مَا نطق الْقُرْآن بِهِ أَو صحت عَن رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم السّنة فِيهِ

“Imam Ahmad berkata: Sesungguhnya Allah Ta’ala mempunyai yadani (”dua tangan”) dan keduanya adalah sifat bagi-Nya dalam Dzat-Nya. Keduanya bukan organ tubuh untuk bekerja (tangan/kaki), bukan susunan, bukan jism atau pun jenis dari jism, bukan kategori sesuatu yang bisa diukur, tersusun, fragmen atau anggota tubuh untuk bekerja (jawârih). “Tangan” itu tak bisa dikiaskan dengan apa pun, bukan siku, bukan lengan, dan bukan pula apa yang dipahami dari kata “tangan” secara umum, kecuali [yang boleh adalah mengatakan] apa yang diucapkan oleh al-Qur’an atau apa yang sahih dari hadits Rasulullah Saw.” (al-Khallal, al-‘Aqidah, 104).

Dengan demikian Imam Ahmad jelas menolak mengartikan kata “yadullah” sebagai “organ tangan Allah” sebab organ adalah sesuatu yang dapat terukur dan tersusun. Sedangkan Dzat Allah bukanlah hal yang demikian.

Senada yang sama sebagaimana dinukil oleh Abu Fadl at-Tamimy (410 H), juga menegaskan sebagaimana berikut:

إِنَّ الأَسْمَاءَ مَأْخُوذَةٌ مِنَ الشَّرِيعَةِ وَاللُّغَةِ، وَأَهْلُ اللُّغَةِ وَضَعُوا هَذَا الاسْمَ – أَيِ الْجِسْمَ – عَلَى ذِي طِولٍ وَعَرْضٍ وَسَمْكٍ وَتَرْكِيبٍ وَصُورَةٍ وَتَأْلِيفٍ، وَاللهُ خَارِجٌ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ – أي مُنزَّهٌ عَنْه – فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُسمَّى جِسْمًا لِخروجِهِ عَنْ مَعْنَى الْجِسْمِيّةِ، وَلَمْ يَجِىءْ في الشَّرِيعَةِ ذَلِكَ فَبَطلَ

“Sesungguhnya istilah-istilah itu diambil dari peristilahan syariah dan peristilahan bahasa sedangkan ahli bahasa menetapkan istilah ini (jism) untuk sesuatu yang punya panjang, lebar, tebal, susunan, bentuk dan rangkaian, sedangkan Allah berbeda dari itu semua. Maka dari itu, tidak boleh mengatakan bahwa Allah adalah jism sebab Allah tak punya makna jismiyah. Dan, istilah itu juga tidak ada dalam istilah syariat, maka batal menyifati Allah demikian.” (Abu al-Fadl at-Tamimy, I’tiqâd al-Imam al-Munabbal Ahmad bin Hanbal, 45).

Dengan demikian, pertanyaan apakah Allah mempunyai tangan dalam artian fisik? Maka jawabannya jelas tidak. Karena kata “yadullah” sejatinya sama sekali tak tepat bila diartikan sebagai “tangan”. Sebab maknanya bukanlah tangan sebagaimana didefinisikan dalam kamus yang dikenal manusia.

Allah sangat berbeda dengan semua makhluk ciptaan-Nya. Maka dari itu mengartikan sesuatu tentang Dzat atau sifat Allah tak bisa dilakukan secara harfiah sebagaimana mengartikan dzat dan sifat makhluk. Ini adalah aqidah seluruh ulama Ahlussunnah wal Jama’ah.

Wallahu a’lam bisshawab.

Labels:

Stop Membayangkan Dzat Allah, Jangan Sampai Kebablasan,Ini Penjelasanya!

Bolehkah Membayangkan Dzat Allah? STOP! Jangan Kebablasan, Ini Penjelasannya!

Berbicara tentang membayangkan Dzat Allah, tentu saja kita akan teringat bahwa ada salah satu kelompok sejak masa awal Islam berusaha untuk membayangkan dan menyerupakan Allah dengan makhluk, kelompok ini disebut sebagai kelompok mujassiimah.

Lalu bagaimana sebenarnya hukum membayangkan Dzat Allah bagi manusia? Apakah diperbolehkan dalam Aqidah?

Mengenal Tasybih dan Tajsim
Sebelum jauh membahas tentang bagaimana hukum tersebut, kita perlu sedikit membicarakan tentang kelompok yang berpaham tasybih atau berusaha menyerupakan Allah dengan Makhluk dan mereka yang berpaham tajsim yaitu meyakini bahwa Allah adalah benda dan mempunyai sifat seperti benda.

Pandangan seperti ini tentu saja berbahaya dan sangat jauh ajaran Islam. Salah satu tokoh Mujassimah yang muncul pada abad pertama hijriyah adalah Muqatil bin Sulaiman as-Sadusy (150H) yang menyatakan sebuah argumen yang tentu tidak boleh kita yakini seperti berikut ini:

“Sesungguhnya Allah adalah benda yang mempunyai anggota-anggota badan, baik kecil atau besar, seperti tangan, kaki, dan kedua mata”

Selain Muqatil bin Sulaiman ada juga Hisyam bin al Hakam (190H) yang menyebutkan bahwa Allah mempunyai bentuk yang bisa berdiri dan bergerak sebagaimana makhluk. Pemikiran kedua tokoh ini tentu saja salah dan tidak boleh di ikuti.

Bahkan Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa pemahaman keduanya tentang Dzat Allah adalah pendapat yang buruk dan tidak perlu di di ikuti sebagai berikut:

أتانا من المشرق رأيان خبيثان جهم معطل ومقاتل مشبه  

“Telah datang kepada kita kaum Muslimin, dua pendapat tokoh yang sangat buruk, Jahm bin Shafwan yang berpaham ta’thil dan pendapat Muqatil yang berpaham tasybih.”

أفرط جهم في النفي حتى قال إنه ليس بشىء وأفرط مقاتل فى الإثبات حتى جعل الله تعالى مثل خلقه  

“Jahm ceroboh dalam menafikan sifat Allah sehingga ia berpendapat Allah tidak mempunyai sifat yang sempurna yang layak bagi-Nya sekalipun (ta’thil). Dan Muqatil juga ceroboh dalam menetapkan sifat Allah (tidak disertai prinsip tanzih, yakni menyucikan-Nya dari sifat dan keserupaan terhadap makhluk sehingga berpaham tasybih.”

Hukum Membayangkan Dzat Allah

Dari sedikit penjelasan mengenai Tasybih dan Tajsim diatas bisa kita simpulkan bahwa mengatakan Allah sama dengan makhluknya merupakan sebuah pemikiran yang sesat dan tidak berdasar. Kemudian bagaimana jika membayangkan dzat Allah?

Mengenai hal ini, dalam Kitab Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal jamaah dikatan sebagaimana berikut:

ما روي عن النبي – صلى الله عليه وسلم – في النهي عن التفكر في ذات الله عز وجل

  وعن عمر :  تفكروا في خلق الله ولا تفكروا في الله 

Hadis diatas menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw melarang bagi seseorang untuk berfikir tentang Dzat Allah dengan mengatakan  تفكروا في خلق الله ولا تفكروا في الله yang berarti ‘Berpikirlah tentang Makhluk Allah dan jangan berfikir tentang Allah’.

Kenapa hal ini dilarang? Karena manusia memiliki keterbatasan. Dalam Kitab Ihya Ulumiddin dijelaskan juga bahwa memikirkan Dzat Allah bagi orang yang awam dan belum menguasai ilmu agama merupakan pintu masuknya syaithan kedalam hati manusia.

Sehingga nantinya hal ini akan membawa pemikiran kita kepada hal hal yang tidak bisa dinalar dan membuat kita ragu terhadap pokok ajaran Islam.

Bahkan lebh jauh lagi bahwa pemikiran tersebut nantinya bisa membuat kita menyematkan suatu sifat kepada Allah yang seharusnya tidak patut disematkan kepada-Nya seperti yang dilakukan oleh kelompok Mujassimah. Naudzubillah.

Labels:

3 Proses Terbentuknya Iman dalam Diri, Keturunan Bukan Salah Satunya


Begini Proses Terbentuknya Iman dalam Diri, Keturunan BUKAN Salah Satunya.

Beriman adalah syarat penting dalam menjadi muslim, tanpa iman, keislaman orang tersebut perlu dipertanyakan. Dari itu muslim harusnya belajar tentang Tuhan dan Keimanan agar bisa disebut beriman.

Lantas bagaimana kita tahu sudah beriman atau belum? Untuk menjawab itu, perlu kiranya kita memahami apa itu iman, dan bagaimana proses terbentuknya iman dalam diri seseorang.

Iman dalam bahasa Arab memiliki arti pengetahuan, percaya dan yakin tanpa keraguan. Dengan demikian, iman adalah kepercayaan yang teguh yang timbul akibat pengetahuan dan keyakinan. Adapun orang yang mengetahui dan percaya pada Allah disebut dengan Mukmin.

Kalau kita cermati kembali makna iman tersebut, dapat dikatakan bahwa proses terbentuknya iman dalam diri seseorang itu melalui 2 tahap, diantaranya:

Didahului Oleh Pengetahuan Tentang Tuhan

Artinya, bahwa iman itu dapat diperoleh lewat proses berpikir, perenungan mendalam, survey atau penelitian terhadap alam semesta.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata)”Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (Q.S. Ali Imran:190-191).

Dengan demikian, iman seseorang tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan diasah dan dipertebal dengan cara terus-menerus menggali rahasia kekuasaan Allah yang tersedia di alam semesta (burhan kauniyah), di samping selalu taat, takwa dan beribadah kepadaNya.

Lihatlah bagaimana nabi Ibrahim a.s. mengeksplorasi alam dalam proses imannya kepada Allah, padahal Ibrahim hidup di tengah kaum (dan bahkan bapaknya sendiri, Azar) yang menjadikan berhala sebagai Tuhan. Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang orang yang yakin. Ketika malam hari telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku”. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, “Saya tidak suka kepada yang tenggelam. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan Yang Menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” (Q.S. al An’am: 74-79).

Ayat di atas menyiratkan sebuah makna bahwasanya faktor keturunan tidaklah membantu dalam terbentuknya iman dalam diri, melainkan eksplorasi dan pengetahuan tentang Tuhan. Pernyataan ini didukung dengan beberapa kisah lain dalam Al-Quran, diantaranya:

Kisah Nabi Nuh AS berupaya keras mengajak putranya untuk ikut menaiki bahtera. Namun putranya itu membangkang. Seperti dalam Al-Quran Surat Huud Ayat 42-46:

وَهِىَ تَجۡرِىۡ بِهِمۡ فِىۡ مَوۡجٍ كَالۡجِبَالِ وَنَادٰى نُوۡحُ اۨبۡنَهٗ وَكَانَ فِىۡ مَعۡزِلٍ يّٰبُنَىَّ ارۡكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنۡ مَّعَ الۡكٰفِرِيۡنَ‏

قَالَ سَاٰوِىۡۤ اِلٰى جَبَلٍ يَّعۡصِمُنِىۡ مِنَ الۡمَآءِ‌ؕ قَالَ لَا عَاصِمَ الۡيَوۡمَ مِنۡ اَمۡرِ اللّٰهِ اِلَّا مَنۡ رَّحِمَ‌ۚ وَحَالَ بَيۡنَهُمَا الۡمَوۡجُ فَكَانَ مِنَ الۡمُغۡرَقِيۡنَ‏

وَقِيۡلَ يٰۤاَرۡضُ ابۡلَعِىۡ مَآءَكِ وَيٰسَمَآءُ اَقۡلِعِىۡ وَغِيۡضَ الۡمَآءُ وَقُضِىَ الۡاَمۡرُ وَاسۡتَوَتۡ عَلَى الۡجُوۡدِىِّ‌ وَقِيۡلَ بُعۡدًا لِّـلۡقَوۡمِ الظّٰلِمِيۡنَ

وَنَادٰى نُوۡحٌ رَّبَّهٗ فَقَالَ رَبِّ اِنَّ ابۡنِىۡ مِنۡ اَهۡلِىۡ وَاِنَّ وَعۡدَكَ الۡحَـقُّ وَاَنۡتَ اَحۡكَمُ الۡحٰكِمِيۡنَ

قَالَ يٰـنُوۡحُ اِنَّهٗ لَـيۡسَ مِنۡ اَهۡلِكَ ‌ۚاِنَّهٗ عَمَلٌ غَيۡرُ صَالِحٍ ‌‌ۖ فَلَا تَسۡــَٔــلۡنِ مَا لَـيۡسَ لَـكَ بِهٖ عِلۡمٌ‌ ؕ اِنِّىۡۤ اَعِظُكَ اَنۡ تَكُوۡنَ مِنَ الۡجٰهِلِيۡ

Demikian pula dengan kisah Nabi Musa AS yang semasa kecilnya diasuh dalam lingkungan keluarga Fir’aun. Firman Allah dalam Al-Quran Surat al-Qashash Ayat 7-8:

وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِى ٱلْيَمِّ وَلَا تَخَافِى وَلَا تَحْزَنِىٓ ۖ إِنَّا رَآدُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ

فَٱلْتَقَطَهُۥٓ ءَالُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا ۗ إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَٰمَٰنَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا۟ خَٰطِـِٔينَ

Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan keluarga dan masyarakat serta pendidikan yang ditempuh oleh seseorang membawa pengaruh bagi tingkat perkembangan pembentukan iman seseorang.

Timbulnya Sikap Percaya Kepada Allah

Meskipun kepercayaan pada tahap ini masih labil, tergantung pada seberapa banyak pengetahuan tentang Allah dan upaya kontemplasinya terhadap alam semesta tersebut, namun iman pada tahap ini akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya pengetahuan yang diperoleh atau pengalaman yang dijalani.

Kadang-kadang muncul keraguan dalam dirinya, namun ketika proses pencarian tersebut berlanjut, sedikit demi sedikit keraguan itu akan hilang lalu berubah pada terbentuknya tahap KETIGA, yakni yakin tanpa dibayangi oleh sikap ragu.

Ash-Shawabu Minallah

Labels:

4 Tingkatan Keimanan Manusia, Kira Kira Anda Masuk yang Mana?


Seperti yang sudah kita ketahui, keimanan adalah bab yang sangat vital dalam ilmu tauhid. Sehingga sudah seharusnya seorang muslim paham (setidaknya dasar) pembahasan ini. Berjuang untuk terus memantapkan Iman adalah bentuk keharusan lain setelah pemahaman.

Proses memantapkan memang tidaklah mudah, tetapi bukan berarti hal itu mustahil, karena dengan terus belajar dan beribadah akan sangat membantu mempertebal keimanan seseorang.

Tingkatan Iman Manusia

Hal lain yang perlu diketahui perihal keimanan, adalah bahwasanya iman seseorang itu memiliki tingkat yang berjenjang. Berikut 4 tingkat dalam keimanan:

1. Tingkat Taqlid

Yaitu beriman karena ikut-ikutan saja, tanpa didasari atas pendirian yang mantap, bahkan iman pada tingkat ini orang tersebut tidak mengetahui dalil dalil atas apa yang dia imani.

Biasanya, hal ini disebabkan karena pengetahuannya tentang masalah ketuhanan yang kurang, sementara ia tidak berupaya untuk meningkatkan pengetahuannya tersebut.

Iman jenis ini tetap dihukumi sah dan dikatakan memiliki keimanan, tetapi orang ini adalah orang yang berdosa karena jika sebenarnya dia mampu untuk menggali pengetahuan tentang keimanannya dan dia tidak berupaya untuk mendalami pengetahuannya.

2. Tingkat Yakin

Yaitu beriman kepada Allah dengan pengetahuannya serta mampu menunjukkan bukti (burhan), alasan (dalil) atas keyakinannya tersebut, namun belum mampu merasakan hubungan yang kuat dan mendalam antara objek dengan bukti yang didapatnya. Iman pada tingkat ini masih bisa goyang dengan sanggahan atau argumen lain yang lebih rasional dan mendalam.

3. Tingkat 'Ainul Yakin

YakinYaitu beriman kepada Allah secara mendalam, rasional dan ilmiah, sehingga ia mampu menemukan hubungan antara objek dengan buktinya. Pada tingkat iman seperti ini ia telah mampu menjawab sanggahan dan argumen yang meragukan keimanannya.

Dalam tingkat keimanan ini, biasanya orang tersebut selalu mengetahui allah dengan pengawasan hati atau dalam derajat muraqabah, rasa takutnya pada Allah menjaga dia agar tidak meluputkan allah dari hatinya.

4. Tingkat Haqqul Yakin

Merupakan tingkat tertinggi dari capaian iman seseorang, karena bukan saja telah mampu nemukan hubungan antara objek dengan buktinya, mendalami masalah ketuhanan secara mendalam, rasional dan ilmiah, melainkan telah merasakan melalui pengalaman keberagamaan, penghayatan dan pengamalan ajaran agamanya.

Orang dengan tingkat keimanan ini dalam ilmu tashawuf dia masuk pada derajat musyahadah, yakni orang yang selalu melihat allah (dengan hati) dalam segala aktifitasnya.

Dalam kitab Syarah Kashifatus Saja fi Syarhi Safinatun Naja, Syekh Nawawi Al-Bantani menambahkan bahwa terdapat tingkatan yang lebih tinggi dari keimanan haqqul yakin, yakni Tingkat Hakikat.

Tingkatan iman hakikat dalam bahasa tasawuf dijelaskan bahwa orang pada tingkat ini akan merasakan penyatuan dengan Allah dan dia merasa mabuk karena saking cintanya kepada allah. Sehingga orang dalam tingkat ini diibaratkan orang yang tenggelam di tengah lautan dan dia sama sekali tidak bisa melihat tepinya.

Dengan demikian dapat ditarik benang merah, bahsawanya tingkatan iman seseorang tersebut tidak selamanya berjalan secara linier, naik dari satu tingkat ke tingkat selanjutnya, melainkan gradual atau bertahap, tergantung pada sejauh mana seseorang berupaya meningkatkan imannya kepada Allah.

Jadi, bisa saja seseorang tetap berada pada tingkat taqlid dan tak pernah sampai pada tingkat yakin, karena ia tidak berupaya lebih lanjut mengetahui, mendalami dan mempelajari masalah ketuhanan beserta bukti-bukti yang ada di alam.

Akan tetapi, bisa jadi pula imannya terus menerus meningkat karena ia tidak pernah berhenti dalam menguak rahasia di balik alam semesta ini atau masalah ketuhanan.

Ash-Shawabu Minallah.

Labels:

Allah Bersemayam di Atas Arasy? Hati-hati Ini Akidah Menyimpang Kaum Mujasimah


Allah Bersemayam di Atas Arasy

Salafi Wahabi meyakini bahwa Allah bersemayam di Atas Arasy, berdasarkan penafsiran tekstualnya terhadap ayat Al-Qur’an. Inilah paham aqidah yang sangat berbahaya yang boleh dikatakan bahwa sesungguhnya mereka telah menjerumuskan diri ke dalam pemahaman aqidah Tajsim (menyerupakan Allah dengan Makhluk), dan sangat bertentangan dengan aqidah ahlussunnah wal Jamaah.

Dalam aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, dipahami bahwa Allah bukanlah jisim atau eksistensi fisikal yang memiliki volume. Mayoritas ulama memustahilkan makna fisikal (jismiyah) dari Allah, salah satunya adalah Imam Ahmad bin Hanbal yang dengan tegas berkata:

إِنَّ الأَسْمَاءَ مَأْخُوذَةٌ مِنَ الشَّرِيعَةِ وَاللُّغَةِ، وَأَهْلُ اللُّغَةِ وَضَعُوا هَذَا الاسْمَ – أَيِ الْجِسْمَ – عَلَى ذِي طِولٍ وَعَرْضٍ وَسَمْكٍ وَتَرْكِيبٍ وَصُورَةٍ وَتَأْلِيفٍ، وَاللهُ خَارِجٌ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ – أي مُنزَّهٌ عَنْه – فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُسمَّى جِسْمًا لِخروجِهِ عَنْ مَعْنَى الْجِسْمِيّةِ، وَلَمْ يَجِىءْ في الشَّرِيعَةِ ذَلِكَ فَبَطلَ

“Sesungguhnya istilah-istilah itu diambil dari peristilahan syariah dan peristilahan bahasa sedangkan ahli bahasa menetapkan istilah ini (jisim) untuk sesuatu yang punya panjang, lebar, tebal, susunan, bentuk dan rangkaian, sedangkan Allah berbeda dari itu semua. Maka dari itu, tidak boleh mengatakan bahwa Allah adalah jisim sebab Allah tak punya makna jismiyah. Dan, istilah itu juga tidak ada dalam istilah syariat, maka batal menyifati Allah demikian”. (Abu al-Fadl at-Tamimy, I’tiqâd al-Imam al-Munabbal Ahmad bin Hanbal, 45).

Lalu bagaimana dengan suatu ungkapan yang terbilang lumrah di telinga penduduk Indonesia bahwa Allah bersemayam di atas Arasy? Bolehkah mengatakan Allah bersemayam meskipun bersemayam adalah sebuah tindakan fisikal yang hanya bisa dilakukan oleh jism (materi)?

Apabila kita membaca Al-Qur’an terjemahan Kementerian Agama dari surat at-Taha ayat 5 berikut:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

Maka akan kita dapati terjemahannya adalah: “Tuhan yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arasy”. Terjemahan ini diberi catatan sebagai berikut: “Bersemayam di atas ‘Arasy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya”. (Lihat: Al Qur’an dan Terjemahnya terbitan Kementerian Agama)

Bila kita terima begitu saja terjemahan tersebut berarti jawabannya sudah jelas: Ya, Allah bersemayam. Tetapi masalahnya tak sesederhana ini. Kita tak boleh membahas masalah aqidah hanya berdasarkan pada terjemahan saja sebab bisa jadi terjemahannya tidak tepat. Dan, tentu saja cara seseorang menerjemah tergantung pada mazhab yang ia anut sehingga terjemahan satu orang bisa berbeda dengan lainnya, apalagi ini terkait dengan ayat Al-Qur’an yang memang kaya makna.

Ayat tersebut menggunakan redaksi “istawa” yang diterjemahkan sebagai “bersemayam”. Bila kita melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bersemayam berarti: duduk, berkediaman, tinggal atau bila konteksnya adalah bersemayam dalam hati, maka maknanya adalah terpatri dalam hati.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa dalam peristilahan bahasa Indonesia, kalimat “bersemayam di atas ‘Arasy” artinya adalah duduk, berdiam atau tinggal di atas Arasy. Kesemua makna ini tanpa diragukan adalah makna jismiyah yang seharusnya dibuang jauh-jauh dari Allah sebab tak layak bagi kesucian-Nya.

Makna duduk sendiri secara tegas dikecam sangat keras oleh Imam Syafi’i, bahkan hingga level dianggap kafir. Imam Syafi’i sebagaimana diriwayatkan oleh Qadli Husain menjelaskan bahwa di antara yang dianggap kafir adalah sebagai berikut:

ومن كفرناه من أهل القبلة: كالقائلين بخلق القرآن، وبأنه لا يعلم المعدومات قبل وجودها، ومن لا يؤمن بالقدر، وكذا من يعتقد أن الله جالس على العرش؛ كما حكاه القاضي الحسين هنا عن نص الشافعي.

“Orang yang kami kafirkan dari kalangan orang yang shalat adalah: mereka yang berkata bahwa al-Qur’an adalah makhluk, bahwa Allah tak mengetahui sesuatu sebelum terjadinya, juga orang yang tak percaya takdir, demikian juga orang yang mengatakan bahwa Allah duduk di atas Arasy. Seperti diriwayatkan oleh Qadli Husain dari penjelasan literal Imam Syafi’i.” (Ibnu ar-Rif’ah, Kifâyat al-Nabîh fî Syarh at-Tanbîh, juz IV, halaman 23).

Tentang vonis kafir terhadap aliran sesat di atas sebenarnya bukanlah hal yang disepakati di kalangan ulama, namun setidaknya semua sepakat bahwa pendapat yang memahami bahwa Allah bersemayam di atas arasy adalah sesat.

Bagaimana tidak sesat, mengatakan Allah duduk di Arasy sama saja dengan mengatakan bahwa Allah punya pantat yang menempel di atas Arasy; mengatakan Allah tinggal atau berdiam di Arasy sama saja dengan mengatakan bahwa Allah punya volume dan ukuran fisik sehingga pasti Allah juga makhluk. Kesemuanya sama sekali mustahil bagi Allah dan Maha Suci Allah dari semua itu.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa mengatakan Allah bersemayam di atas Arasy adalah ungkapan yang tidak tepat. Tim penerjemah dari Kementerian Agama tampaknya sadar akan celah ini sehingga mereka memberi catatan “Bersemayam di atas ‘Arasy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya” seolah mau menjelaskan bahwa bersemayam yang mereka maksud bukanlah bersemayam dalam arti duduk, tinggal atau berdiam yang kesemuanya tidak layak bagi kebesaran dan kesucian Allah, tetapi makna lain yang layak bagi-Nya.

Namun bagaimanapun harus diakui bahwa diksi yang dipilih oleh tim penerjemah Kementerian Agama tersebut kurang tepat sebab kata bersemayam tak punya arti lain dalam kamus bahasa Indonesia selain makna jismiyah tersebut. Diksi yang kurang tepat ini rawan menimbulkan salah paham bagi orang awam. Padahal, dalam bahasa Arab kata istawa tak selalu bermakna jismiyah, namun bisa diartikan bermacam-macam sesuai konteksnya.

Hal ini berbeda kasusnya dengan kata “yad” yang oleh Kementerian Agama diterjemah sebagai “tangan”. Meskipun kata “tangan” juga berkonotasi jismiyah, namun dalam KBBI kata ini tak hanya bermakna tangan sebagai organ tubuh tetapi bisa juga bermakna non-jismiyah seperti makna kekuasaan, perintah dan sebagainya sehingga penerjemahan kata “yad” menjadi “tangan” lebih bisa dimaklumi.

Yang justru paling aman adalah tidak menerjemah kata-kata berupa sifat khabariyah ini tetapi membiarkannya apa adanya lalu diberi catatan berbagai kemungkinan makna yang layak bagi Allah. Wallahua’lam.

Labels:

Mi'raj Nabi Pertanda Allah Di Langit? Berikut Penjelasanya!


Betulkah Peristiwa Mi'raj Nabi Pertanda Allah di Langit? Ini Jawabannya!

Aqidah Ahlus Sunnah adalah Allah tidak bersifat dengan sifat dzat makhluk, dzat Allah tidak punya kesamaan dengan dzat makhluk, dzat Allah tidak bersifat dengan Bersemayam, tidak juga berada di atas makhluk-Nya, apalagi berada dalam makhluk-Nya.

Sangat banyak dalil tentang perbedaan Allah dan makhluk, tinggal bagaimana manusia nya membedakan nya, sebagian manusia ada yang hanya membedakan kaifiyat nya saja dan membiarkan dzat dan sifat Allah sama dengan makhluk, dalam anggapan nya, berbeda kaifiyat saja sudah cukup.

Kesalahpahaman ini di dasari dari kesalahan mereka memahami dalil Al-Quran dan As-Sunnah, dan juga kesalahan dalam memahami pernyataan para ulama, mereka tidak pernah merasa bersalah dengan kesalahan ini, sehingga menimbulkan kontroversi dan kontradiksi dengan pemahaman mereka sendiri, karena ketika menemukan Ayat atau Hadits yang dhohir makna nya menunjukkan Tuhan di atas, mereka sangat percaya sekali bahwa Tuhan berada di Atas.

Tapi ketika mereka jumpai Ayat atau Hadits yang dhohir makna nya menunjukkan tentang Tuhan di bumi, mereka ingkari dan lupa bahwa mereka telah melakukan Ta’wil di sini, dan mencela Ta’wil di sana, sementara pemahaman Ahlus Sunnah tidak berbeda antara tempat di bumi dengan tempat di langit, bumi makhluk dan atas langit juga makhluk, dan semua selain Allah adalah makhluk, Allah tidak berada di/dalam makhluk-Nya, Ayat atau Hadits itu tidak boleh beriman dengan makna dhohirnya, tapi di Ta’wil, baik dengan menentukan makna nya [Ta’wil Tafsili] atau dengan tidak menentukan makna nya [Ta’wil Ijmali atau disebut dengan Tafwidh].

Bermacam Ayat atau Hadits atau bahkan pernyataan Ulama yang mereka jadikan sebagai dalil bahwa Tuhan berada di atas langit, justru bertentangan dengan Ayat atau Hadist yang menunjukkan Tuhan di bumi [bila di artikan dengan metode yang sama], dan juga tertolak dengan Ayat dan Hadits tentang perbedaan Tuhan dengan makhluk, akhirnya muncullah dalil-dalil yang lebih konyol lagi seperti berdalil dengan Mi’raj nya Rasulullah ke langit, dijadikan sebagai bukti bahwa Tuhan berada di langit, inilah yang akan kita bahas dalam tulisan ini.

Benarkah Mi'raj Nabi Menandakan Tuhan Di Atas Langit?

Isra’ dan Mi’raj Nabi dari Mesjidil Haram ke Mesjid Al-Aqsa dan dari Mesjid Al-Aqsa naik ke Sidrati Al-Muntaha adalah benar adanya, dan merupakan Mu’jizat Nabi besar Muhammad SAW, setiap muslim tentu tidak meragukan kebenaran keajaiban Isra’ dan Mi’raj.

Tapi sebagian orang yang mengaku muslim telah menodai kisah Isra’ dan Mi’raj ini dengan memasukkan ideologi menempatkan Tuhan di atas langit, dan mari kita lihat kebenaran ideologi tersebut dengan Ayat tentang Isra’ dan Mi’raj, adakah tersurat atau tersirat ideologi tersebut dalam Al-Quran ?

Allah taala berfirman:

سبحان الذي أسرى بعبده ليلا من المسجد الحرام إلى المسجد الاقصى الذي باركنا حوله لنريه من آياتنا إنه هو السميع البصير

“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari masjid al- Haram menuju masjid al-Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kekuasaan) kami, sesungguhnya Allah itu Maha mendengar dan Maha melihat”. [QS Al-Isra’ 1]

Coba perhatikan adakah dalam ayat itu disebutkan bahwa Nabi Mi’raj ke langit untuk bertemu dengan Tuhan? dari mana mereka memahami dari Ayat tersebut bahwa Nabi malam itu pergi ke tempat Tuhan? yang ada dalam ayat hanya لنريه من آياتنا “agar kami perlihatkan tanda-tanda kami”, bukan hendak dipertemukan dengan Allah, tapi hanya untuk diperlihatkan tanda-tanda besar adanya Tuhan, sungguh sebuah prasangka yang mengada-ngada bila mengatakan bahwa Isra’ dan Mi’raj adalah perjalanan Nabi ke tempat Tuhan, dan menjadikan sebagai bukti Tuhan berada di atas, [Na’uzubillah].

Selanjutnya bukankah Nabi berkalam dengan Allah di Sidrati Al-Muntaha? bukankah itu artinya Allah berada di situ?

Lagi-lagi ini adalah prasangka di atas prasangka, seorang yang berprasangka buruk terhadap Allah, pasti akan menyangka demikian, maha suci Allah dari prasangka hamba-Nya.

Sebagaimana di pahami dari Hadits-Hadits tentang Isra’ dan Mi’raj, behwa Allah taala berkalam dengan Nabi Muhammad SAW, tapi sama sekali tidak menunjukkan bahwa Allah berada di tempat itu, sebagaimana Allah juga berkalam dengan Nabi Musa di lembah Al-Muqaddas Thuwa, lalu apa anda menyangka bahwa Allah juga berada di lembah itu? hanya orang yang condong hati kepada kesesatan yang berprasangka demikian, dalam Al-Quran Surat Thaha ayat 11-14 diceritakan sebagai berikut :

فلما أتاها نودي يا موسى * إني أنا ربك فاخلع نعليك إنك بالواد المقدس طوى * وأنا اخترتك فاستمع لما يوحى * إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري

“Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa * Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa * Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu) * Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. [Q.S. Thaha 11-14]

Dipahami dari ayat di atas bahwa Allah bicara dengan Nabi Musa di Al-Wadi Al-Muqaddasi Thuwa di pinggir bukit di Palestina, sedangkan Allah tidak berada di situ, begitu juga dengan Mi’raj nya Nabi Muhammad SAW ke Sidrati Al-Muntaha, Allah berkalam dengan Nabi Muhammad SAW di situ, sementara Allah tidak berada di situ, Maha suci Allah dari tempat dilangit dan dibumi.

Selanjutnya, bukankah menerima perintah Sholat di Sidrati Al-Muntaha? kalau bukan berada di atas, kenapa juga perintah Sholat tidak melalui wahyu seperti perintah lain nya?

Sebaiknya berhentilah berprasangka terhadap Allah, karena prasangka itu datang dari dasar Tauhid yang rapuh, betapa tidak, karena dalam surat Al-Isra’ di atas sudah tercantum bahwa Allah membawa Nabi Isra’ dan Mi’raj karena ingin menampakkan tanda yang sangat besar dan ajaib, yang menunjukkan bahwa Allah benar-benar ada.

Isra’ dan Mi’raj bukan untuk menerima perintah Sholat, biarpun Nabi menerima perintah Sholat di situ, karena Nabi Musa menerima perintah Sholat di bumi, sebagaimana tercantum dalam surat Thaha di atas, maka perintah Sholat tidak menunjukkan bahwa Allah berada di atas, sebagaimana Allah memerintahkan Sholat kepada Nabi Musa di bumi, padahal Allah juga tidak berada di bumi, Maha suci Allah dari segala sifat makhluk.

Syubhat selanjutnya, bukankah nabi melihat Allah di sana ? bukankah itu bukti Allah berada di sana?

Na’uzubillah, maha suci Allah dari prasangka mereka, sesungguhnya tengtang adakah Nabi melihat Allah di sana, telah terjadi perbedaan pendapat dari Ulama, ada yang menyatakan Nabi melihat Tuhan dengan mata kepala tapi tanpa kaifiyat, ada yang mengatakan Nabi melihat Tuhan dengan mata hati, bukan dengan mata kepala, khilafiyah dalam masalah ini menunjukkan bahwa ini pendapat dhani (boleh jadi benar, boleh jadi salah), maka tidak mungkin masalah ini dijadikan sebagai dalil untuk masalah yang Qath’i (pasti) yakni untuk masalah dasar Aqidah, karena sesuatu yang Dhanni tidak bisa sampai kepada sesuatu yang Qath’i, sesuatu yang pasti, harus beranjak dari sesuatu yang pasti pula.

Syubhat selanjutnya, bukankah ketika nabi turun membawa pulang 50 waktu sholat, lalu bertemu nabi Musa, dan Nabi Musa menyuruh kembali naik ketempat itu untuk minta keringanan dari 50 menjadi 5 waktu setelah bolak-balik nabi ketempat itu? bukankah nabi bolak balik ke tempat Tuhan?

Na’uzubillah, Maha suci Allah dari arah dan tempat, sesungguhnya nabi Musa berkata kepada Nabi Muhammad:

إرجع إلى ربك فاسأله التخفيف

“kembalilah engkau kepada Tuhanmu, maka mintalah keringanan”.

Maksudnya nabi Musa menyuruh nabi Muhammad agar kembali kepada tempat beliau menerima wahyu dari Allah, yakni tempat beliau menerima perintah sholat, nabi Musa sama sekali tidak menyebutkan tempat Tuhan, di saat nabi berada di Sidrat Al-Muntaha tidak menunjukkan Allah bertempat di situ atau atas nya lagi, maka saat nabi bolak-balik ke situ pun tidak menunjukkan demikian.

Dalam satu Hadits riwayat Bukhari dan Muslim Rasul bersabda:

لا ينبغي لعبد أن يقول أنا خير من يونس بن متى

“Tidak boleh bagi hamba bahwa ia berkata saya lebih baik dari nabi Yunus bin Matta”.

Dalam riwayat lain:

لا تفضلوني على يونس بن متى

“Jangan kalian lebih aku dari Nabi Yunus bin Matta”

Hadits ini adalah larangan menyangka bahwa nabi Muhammad SAW lebih baik dari nabi Yunus karena Nabi Muhammad pernah dekat dengan Tuhan karena pernah berada di atas langit ketujuh, sementara nabi Yunus pernah jauh sekali dengan Tuhan karena pernah berada dalam dasar lautan, Allah ada tanpa bertempat, maka tidak ada yang lebih dekat tempat antara nabi Muhammad dan nabi Yunus kepada Allah.

Sementara tidak diragukan lagi bahwa nabi Muhammad lebih mulia dari nabi Yunus bahkan dari semua nabi dan bahkan dari segala makhluk, kedudukan para rasul tidak sama dalam kelebihan, sebagaimana firman Allah:

تلك الرسل فضلنا بعضهم على بعض منهم من كلم الله ورفع بعضهم درجات

“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat”.[Q.S Al-Baqarah 253]

Dalam ayat lain Allah berfirman:

ولقد فضلنا بعض النبيين على بعض

“Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain)”.[Q.S Al-Isra’ 55]

Dalam ayat di atas sangat jelas bahwa kedudukan martabat seorang rasul berbeda-beda, tidak mungkin nabi melarang melebihkan nya dari Nabi lain, sementara Allah telah melebihkan sebagian Nabi dari Nabi yang lain, maka larangan dalam hadits itu maksudnya adalah melebihkan nya dari nabi Yunus dari sisi tempat, sehingga menyangka Nabi Muhammad lebih dekat dengan Allah dari Nabi Yunus.

Berkata Al-Muhaddits Imam Muhammad Murtadha Az-Zabidi :

ذَكر الإمام قاضي القضاة ناصر الدين بن المُنَيِّر الإسكندري المالكي في كتابه “المنتقى في شرف المصطفى” لما تكلم على الجهة وقرر نفيَها قال: ولهذا أشار مالك رحمه الله تعالى في قوله صلى الله عليه وسلم: “لا تفضلوني على يونس بن متى”، فقال مالك: إنما خص يونس للتنبيه على التنزيه لأنه صلى الله عليه وسلم رفع إلى العرش ويونس عليه السلام هبط إلى قاموس البحر ونسبتهما مع ذلك من حيث الجهة إلى الحقّ جل جلاله نسبة واحدة، ولو كان الفضل بالمكان لكان عليه السلام أقرب من يونس بن متى وأفضل وَلمَا نهى عن ذلك.

“al-Imam al-‘Allamah al-Qadli Nashiruddin ibn al-Munayyir al-Maliki (seorang ulama terkemuka sekitar abad tujuh hijriyah), dalam karyanya berjudul al-Muqtafa Fi Syaraf al-Musthafa telah menuliskan pernyataan al-Imam Malik bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dalam karyanya tersebut, al-Imam Ibn al-Munayyir mengutip sebuah hadits, riwayat al-Imam Malik bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta”.

Dalam penjelasan hadits ini al-Imam Malik berkata bahwa Rasulullah secara khusus menyebut nabi Yunus dalam hadits ini, tidak menyebut nabi lainya, adalah untuk memberikan pemahaman akidah tanzih, -bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah-. Hal ini karena Rasulullah diangkat ke atas ke arah arsy -ketika peristiwa Mi’raj-, sementara nabi Yunus dibawa ke bawah hingga ke dasar lautan yang sangat dalam -ketika beliau ditelan oleh ikan besar-, dan kedua arah tersebut, baik arah atas maupun arah bawah, keduanya bagi Allah sama saja.

Artinya satu dari lainnya tidak lebih dekat kepada-Nya, karena Allah ada tanpa tempat. Karena seandainya kemuliaan itu diraih karena berada di arah atas, maka tentu Rasulullah tidak akan melarang melebih-lebihkan beliau atas nabi Yunus ibn Matta”. [Ithaf as-Sadah al-Muttaqin- 2- 105].

Akhirnya nampaklah mana yang haq dan mana yang batil, aqidah batil tetap tidak akan bisa diselamatkan dengan cara apa pun, bahkan dengan cara licik sekalipun, telah tegak dalil aqidah Ahlus Sunnah Wal jama’ah bahwa Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat.

Aqidah batil tetap saja bisa tercium walaupun disisipkan dalam kisah peristiwa Isra’ dan Mi’raj, tidak ada ayat atau hadits tentang Isra’ dan Mi’raj yang menunjukkan Allah berada di langit, kecuali hanya anggapan dan prasangka orang-orang yang hati nya condong kepada kesesatan, semoga kita dan keluarga kita selamat dari syubhat-syubhat aqidah yang disisipkan oleh kaum Salafi Wahabi dalam setiap sisi Agama ini.

Maha suci Allah dari arah dan tempat.

Semoga Bermanfaat.

Labels:

Awas! Membagi Tauhid Menjadi 3 Bukan Ajaran Islam


Membagi Tauhid Menjadi 3 Bukanlah Ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah

Artikel ini mencoba membongkar kesesatan (bid’ah aqidah) ajaran Wahabi yang membagi Tauhid kepada 3 bagian: tauhid uluhiyyah, tauhid rububiyyah, dan tauhid asma wa sifat. Aqidah rekayasa mereka ini adalah Bid’ah Sesat. Umat Islam sudah waktunya mengetahui pemahaman tauhid yang diajarkan Allah dan Rasul-NYA Muhammad Saw.

Di artikel ini akan dibuktikan bahwa pembagian tauhid menjadi tiga bagian tersebut bukan ajaran Islam, sebab Allah dan Rasul-NYA tidak pernah mengajarkan tauhid model yang diajarkan di kalangan kaum Wahabi ini. Begitu juga para Sahabat Nabi tidak ada satu pun yang mengajarkan “tauhid tiga” tersebut.

Tauhid /aqidah adalah masalah ushul, wajib berdasar dalil Qoth’i (pasti), jika selama ini kaum Wahabi meminta dalil Qoth’i untuk urusan ibdah ghoiru mahdhoh semisal Tahlilan, Yasinan, Maulidan, lebih-lebih untuk tauhid / aqidah seharusnya mereka juga mempertanyakan apa dalil Qoth’i yang menjadi dasar pembagian tauhid.

Tentunya karena Tauhid / aqidah adalah dasar di mana ibadah-ibadah kita dikerjakan di atasnya. Jika pemahaman tauhid salah maka bagaimana nilai ibadahnya. Seharusnya ini jadi urgensi yang wajib mereka pertanyakan pula.

Selain itu tentunya, efek samping dari ajaran “tauhid tiga” yang batil ini hanya akan menimbulkan fitnah di tengah Umat Islam. Seperti kita ketahui bersama, tauhid tiga ajaran Wahabi ujung-ujungnya hanya bermaksud untuk menuduh bahkan mem-vonis kaum beriman sebagai musyrik. Na’udzu billah min dzaalik!

Pendapat kaum Wahabi yang membagi tauhid kepada tiga bagian: tauhid Uluhiyyah, tauhid Rububiyyah, dan tauhid al-Asma’ Wa ash-Shifât adalah bid’ah batil yang menyesatkan.

Pembagian tauhid seperti ini sama sekali tidak memiliki dasar, baik dari al-Qur’an, hadits, dan tidak ada seorang pun dari para ulama Salaf atau seorang ulama saja yang kompeten dalam keilmuannya yang membagi tauhid kepada tiga bagian tersebut.

Pembagian tauhid kepada tiga bagian ini adalah pendapat ekstrim dari kaum Musyabbihah masa sekarang, mereka mengaku datang sebagai penegak Tauhid untuk memberantas bid’ah namun sebenarnya mereka adalah orang-orang yang membawa bid’ah.

Di antara dasar yang dapat membuktikan kesesatan pembagian tauhid ini adalah sabda Rasulullah:

أمِرْتُ أنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتىّ يَشْهَدُوْا أنْ لاَ إلهَ إلاّ اللهُ وَأنّيْ رَسُوْل اللهِ، فَإذَا فَعَلُوْا ذَلكَ عُصِمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وأمْوَالَهُمْ إلاّ بِحَقّ (روَاه البُخَاريّ)

“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (Ilâh) yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa saya adalah utusan Allah. Jika mereka melakukan itu maka terpelihara dariku darah-darah mereka dan harta-harta mereka kecuali karena hak”. ( HR al-Bukhari ).

Dalam hadits ini Rasulullah tidak membagi tauhid kepada tiga bagian, beliau tidak mengatakan bahwa seorang yang mengucapkan “Lâ Ilâha Illallâh” saja tidak cukup untuk dihukumi masuk Islam, tetapi juga harus mengucapkan “Lâ Rabba Illallâh”.

Tetapi makna hadits ialah bahwa seseorang dengan hanya bersaksi dengan mengucapkan “Lâ Ilâha Illallâh”, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah maka orang ini telah masuk dalam agama Islam.

Hadits ini adalah hadits mutawatir dari Rasulullah, diriwayatkan oleh sejumlah orang dari kalangan sahabat, termasuk di antaranya oleh sepuluh orang sahabat yang telah medapat kabar gembira akan masuk ke surga. Dan hadits ini telah diriwayatkan oleh al-Imâm al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya.

Tujuan kaum Musyabbihah membagi tauhid kepada tiga bagian ini adalah tidak lain hanya untuk mengkafirkan / memusyrikkan orang-orang Islam ahli tauhid yang melakukan tawassul dengan Nabi Muhammad, atau dengan seorang wali Allah dan orang-orang saleh. Mereka mengklaim bahwa seorang yang melakukan tawassul seperti itu tidak mentauhidkan Allah dari segi tauhid Uluhiyyah.

Demikian pula ketika mereka membagi tauhid kepada tauhid al-Asma’ Wa ash-Shifat, tujuan mereka tidak lain hanya untuk mengkafirkan orang-orang yang melakukan takwil terhadap ayat-ayat Mutasyâbihât.

Oleh karenanya, kaum Musyabbihah ini adalah kaum yang sangat kaku dan keras kepala dalam memegang teguh zhahir teks-teks Mutasyâbihât dan sangat “alergi” terhadap takwil. Bahkan mereka mengatakan: “al-Mu’aw-wil Mu’ath-thil”; artinya seorang yang melakukan takwil sama saja dengan mengingkari sifat-sifat Allah. Na’ûdzu Billâh.

Dengan hanya hadits shahih di atas, cukup bagi kita untuk menegaskan bahwa membagi tauhid kepada tiga bagian di atas adalah bid’ah batil yang dikreasi oleh orang-orang yang mengaku memerangi bid’ah yang sebenarnya mereka sendiri ahli bid’ah.

Bagaimana mereka tidak disebut sebagai ahli bid’ah, padahal mereka membuat ajaran tauhid yang sama sekali tidak pernah dikenal oleh orang-orang Islam?! Di mana logika mereka, ketika mereka mengatakan bahwa tauhid Uluhiyyah saja tidak cukup, tetapi juga harus dengan pengakuan tauhid Rububiyyah?! Bukankah ini berarti menyalahi hadits Rasulullah di atas?!

Dalam hadits di atas sangat jelas memberikan pemahaman kepada kita bahwa seorang yang mengakui ”Lâ Ilâha Illallâh” ditambah dengan pengakuan kerasulan Nabi Muhammad maka cukup bagi orang tersebut untuk dihukumi sebagai orang Islam. Dan ajaran inilah yang telah dipraktekan oleh Rasulullah ketika beliau masih hidup.

Apabila ada seorang kafir bersaksi dengan ”Lâ Ilâha Illallâh” dan ”Muhammad Rasûlullâh” maka oleh Rasulullah orang tersebut dihukumi sebagai seorang muslim yang beriman. Kemudian Rasulullah memerintahkan kepadanya untuk melaksanakan shalat sebelum memerintahkan kewajiban-kewajiban lainnya; sebagaimana hal ini diriwayatkan dalam sebuah hadits oleh al-Imâm al-Bayhaqi dalam Kitâb al-I’tiqâd.

Sementara kaum Musyabbihah di atas membuat ajaran baru; mengatakan bahwa tauhid Uluhiyyah saja tidak cukup, ini sangat nyata telah menyalahi apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Mereka tidak paham bahwa ”Uluhiyyah” itu sama saja dengan ”Rububiyyah”, bahwa ”Ilâh” itu sama saja artinya dengan ”Rabb”.

Kemudian kita katakan pula kepada mereka; Di dalam banyak hadits diriwayatkan bahwa di antara pertanyaan dua Malaikat; Munkar dan Nakir yang ditugaskan untuk bertanya kepada ahli kubur adalah: ”Man Rabbuka?”. Tidak bertanya dengan ”Man Rabbuka?” lalu diikutkan dengan ”Man Ilahuka?”. Lalu seorang mukmin ketika menjawab pertanyaan dua Malaikat tersebut cukup dengan hanya berkata ”Allâh Rabbi”, tidak harus diikutkan dengan ”Allâh Ilâhi”. Malaikat Munkar dan Nakir tidak membantah jawaban orang mukmin tersebut dengan mengatakan: ”Kamu hanya mentauhidkan tauhid Rububiyyah saja, kamu tidak mentauhidkan tauhid Uluhiyyah !”.

Inilah pemahaman yang dimaksud dalam hadits Nabi tentang pertanyaan dua Malaikat dan jawaban seorang mukmin dikuburnya kelak. Dengan demikian kata ”Rabb” sama saja dengan kata ”Ilâh”, demikian pula ” tauhid Uluhiyyah ” sama saja dengan ”tauhid Rubûbiyyah”.

Dalam kitab Mishbâh al-Anâm, pada pasal ke dua, karya al-Imâm Alawi ibn Ahmad al-Haddad, tertulis sebagai berikut:

”Tauhid Uluhiyyah masuk dalam pengertian tauhid Rububiyyah dengan dalil bahwa Allah telah mengambil janji (al-Mîtsâq) dari seluruh manusia anak cucu Adam dengan firman-Nya ”Alastu Bi Rabbikum?”

Ayat ini tidak kemudian diikutkan dengan ”Alastu Bi Ilâhikum?” Artinya; Allah mencukupkannya dengan tauhid Rububiyyah, karena sesungguhya sudah secara otomatis bahwa seorang yang mengakui ”Rubûbiyyah” bagi Allah maka berarti ia juga mengakui ”Ulûhiyyah” bagi-Nya. Karena makna ”Rabb” itu sama dengan makna ”Ilâh”.

Dan karena itu pula dalam hadits diriwayatkan bahwa dua Malaikat di kubur kelak akan bertanya dengan mengatakan ”Man Rabbuka?”, tidak kemudian ditambahkan dengan ”Man Ilâhuka?”. Dengan demikian sangat jelas bahwa makna tauhid Rubûbiyyah tercakup dalam makna tauhid Uluhiyyah.

Di antara yang sangat mengherankan dan sangat aneh adalah perkataan sebagian pendusta besar terhadap seorang ahli tauhid; yang bersaksi ”Lâ Ilâha Illallâh, Muhammad Rasulullah”, dan seorang mukmin muslim ahli kiblat, namun pendusta tersebut berkata kepadanya: ”Kamu tidak mengenal tahuid. Tauhid itu terbagi dua; tauhid Rububiyyah dan tauhid Uluhiyyah.

Tauhid Rububiyyah adalah tauhid yang telah diakui oleh oleh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik. Sementara tauhid Uluhiyyah adalah adalah tauhid murni yang diakui oleh orang-orang Islam. Tauhid Uluhiyyah inilah yang menjadikan dirimu masuk di dalam agama Islam. Adapun tauhid Rububiyyah saja tidak cukup”.

Ini adalah perkataan orang sesat yang sangat aneh. Bagaimana ia mengatakan bahwa orang-orang kafir dan orang-orang musyrik sebagai ahli tauhid ?!

Jika benar mereka sebagai ahli tauhid tentunya mereka akan dikeluarkan dari neraka kelak, tidak akan menetap di sana selamanya, karena tidak ada seorangpun ahli tauhid yang akan menetap di daam neraka tersebut sebagaimana telah diriwayatkan dalam banyak hadits shahih.

Adakah kalian pernah mendengar di dalam hadits atau dalam riwayat perjalanan hidup Rasulullah bahwa apa bila datang kepada beliau orang-orang kafir Arab yang hendak masuk Islam lalu Rasulullah merinci dan menjelaskan kepada mereka pembagian tauhid kepada tauhid Uluhiyyah dan tauhid Rububiyyah?! Dari mana mereka mendatangkan dusta dan bohong besar terhadap Allah dan Rasul-Nya ini?!

Padahal sesungguhnya seorang yang telah mentauhidkan ”Rabb” maka berarti ia telah mentauhidkan ”Ilâh”, dan seorang yang telah memusyrikkan ”Rabb” maka ia juga berarti telah memusyrikan ”Ilâh”.

Bagi seluruh orang Islam sudah pasti berkeyakinan bahwa tidak ada yang berhak disembah oleh mereka kecuali ”Rabb” yang juga ”Ilâh” mereka. Maka ketika mereka berkata ”Lâ Ilâha Illallâh”; bahwa hanya Allah Rabb mereka yang berhak disembah; artinya mereka menafikan Uluhiyyah dari selain Rabb mereka, sebagaimana mereka menafikan Rubûbiyyah dari selain Ilâh mereka. Mereka menetapkan ke-Esa-an bagi Rabb yang juga Ilâh mereka pada Dzat-Nya, Sifat-sifat-Nya, dan pada segala perbuatan-Nya; artinya tidak ada keserupaan bagi-Nya secara mutlak dari berbagai segi”.

(Masalah): Para ahli bid’ah dari kaum Musyabbihah biasanya berkata: ”Sesungguhnya para Rasul diutus oleh Allah adalah untuk berdakwah kepada umatnya terhadap tauhid Uluhiyyah; yaitu agar mereka mengakui bahwa hanya Allah yang berhak disembah.

Adapun tauhid Rububiyyah; yaitu keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan seluruh alam ini, dan bahwa Allah adalah yang mengurus segala peristiwa yang terjadi pada alam ini, maka tauhid ini tidak disalahi oleh seorang-pun dari seluruh manusia, baik orang-orang musyrik maupun orang-orang kafir, dengan dalil firman Allah dalam QS. Luqman:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَيَقُولَنَّ اللهُ (لقمان: 25)

“Dan jika engkau bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan seluruh lapisan langit dan bumi? Maka mereka benar-benar akan menjawab: “Allah” (QS. Luqman: 25)

(Jawab): Perkataan mereka ini murni sebagai kebatilan belaka. Bagaimana mereka berkata bahwa seluruh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik sama dengan orang-orang mukmin dalam tauhid Rububiyyah ?! Adapun pengertian ayat di atas bahwa orang-orang kafir mengakui Allah sebagai Pencipta langit dan bumi adalah pengakuan yang hanya di lidah saja, bukan artinya bahwa mereka sebagai orang-orang ahli tauhid; yang mengesakan Allah dan mengakui bahwa hanya Allah yang berhak disembah.

Terbukti bahwa mereka menyekutukan Allah, mengakui adanya tuhan yang berhak disembah kepada selain Allah. Mana logikanya jika orang-orang musyrik disebut sebagai ahli tauhid ?!

Rasulullah tidak pernah berkata kepada seorang kafir yang hendak masuk Islam bahwa di dalam Islam terdapat dua tauhid; Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Rububiyyah ! Rasulullah tidak pernah berkata kepada seorang kafir yang hendak masuk Islam bahwa tidak cukup baginya untuk menjadi seorang muslim hanya bertauhid Rubûbiyyah saja, tapi juga harus ber- tauhid Uluhiyyah !

Oleh karena itu di dalam al-Qur’an Allah berfirman tentang perkataan Nabi Yusuf saat mengajak dua orang di dalam penjara untuk mentauhidkan Allah:

أَأَرْبَابٌ مُتَفَرّقُوْنَ خَيْرٌ أمِ اللهُ الْوَاحِدُ الْقَهّار (يوسف: 39

”Adakah rabb-rabb yang bermacam-macam tersebut lebih baik ataukah Allah (yang lebih baik) yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan yang maha menguasai?!” (QS. Yusuf: 39).

Dalam ayat ini Nabi Yusuf menetapkan kepada mereka bahwa hanya Allah sebagai Rabb yang berhak disembah.

Perkataan kaum Musyabbihah dalam membagi tauhid kepada dua bagian, dan bahwa tauhid Uluhiyyah (Ilâh) adalah pengakuan hanya Allah saja yang berhak disembah adalah pembagian batil yang menyesatkan, karena tauhid Rububiyyah adalah juga pengakuan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, sebagaimana yang dimaksud oleh ayat di atas.

Dengan demikian Allah adalah Rabb yang berhak disembah, dan juga Allah adalah Ilâh yang berhak disembah. Kata “Rabb” dan kata “Ilâh” adalah kata yang memiliki kandungan makna yang sama sebagaimana telah dinyatakan oleh al-Imâm Abdullah ibn Alawi al-Haddad di atas.

Dalam majalah Nur al-Islâm, majalah ilmiah bulanan yang diterbitkan oleh para Masyâyikh al-Azhar asy-Syarif Cairo Mesir, terbitan tahun 1352 H, terdapat tulisan yang sangat baik dengan judul “Kritik atas pembagian tauhid kepada Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Rububiyyah” yang telah ditulis oleh asy-Syaikh al-Azhar al-‘Allamâh Yusuf ad-Dajwi al-Azhari (w 1365 H), sebagai berikut:

“Sesungguhnya pembagian tauhid kepada tauhid Uluhiyyah dan Rububiyyah adalah pembagian yang tidak pernah dikenal oleh siapapun sebelum Ibn Taimiyah. Artinya, ini adalah bid’ah sesat yang telah ia munculkannya.

Di samping perkara bid’ah, pembagian ini juga sangat tidak masuk akal; sebagaimana engkau akan lihat dalam tulisan ini. Dahulu, bila ada seseorang yang hendak masuk Islam, Rasulullah tidak mengatakan kepadanya bahwa tauhid ada dua macam.

Rasulullah tidak pernah mengatakan bahwa engkau tidak menjadi muslim hingga bertauhid dengan tauhid Uluhiyyah (selain tauhid Rububiyyah), bahkan memberikan isyarat tentang pembagian tauhid ini, walau dengan hanya satu kata saja, sama sekali tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah.

Demikian pula hal ini tidak pernah didengar dari pernyataan ulama Salaf; yang padahal kaum Musyabbihah sekarang yang membagi-bagi tauhid kepada tauhid Uluhiyyah dan tauhid Rububiyyah tersebut mengaku-aku sebagai pengikut ulama Salaf. Sama sekali pembagian tauhid ini tidak memiliki arti. Adapun firman Allah:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَيَقُولَنَّ اللهُ (لقمان: 25)

“Dan jika engkau bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan seluruh lapisan langit dan bumi? Maka mereka benar-benar akan menjawab: “Allah” (QS. Luqman: 25)

Ayat ini menceritakan perkataan orang-orang kafir yang mereka katakan hanya di dalam mulut saja, tidak keluar dari hati mereka. Mereka berkata demikian itu karena terdesak tidak memiliki jawaban apapun untuk membantah dalil-dalil kuat dan argumen-argumen yang sangat nyata (bahwa hanya Allah yang berhak disembah).

Bahkan, apa yang mereka katakan tersebut (pengakuan ketuhanan Allah) ”secuil”-pun tidak ada di dalam hati mereka, dengan bukti bahwa pada saat yang sama mereka berkata dengan ucapan-ucapan yang menunjukan kedustaan mereka sendiri.

Lihat, bukankah mereka menetapkan bahwa penciptaan manfaat dan bahaya bukan dari Allah?! Benar, mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah. Dari mulai perkara-perkara sepele hingga peristiwa-peristiwa besar mereka yakini bukan dari Allah, bagaimana mungkin mereka mentauhidkan-Nya?! Lihat misalkan firman Allah tentang orang-orang kafir yang berkata kepada Nabi Hud:

إِن نَّقُولُ إِلاَّ اعْتَرَاكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوءٍ (هود: 54)

”Kami katakan bahwa tidak lain engkau telah diberi keburukan atau dicelakakan oleh sebagian tuhan kami” (QS. Hud: 54).

Sementara Ibn Taimiyah berkata bahwa dalam keyakinan orang-orang musyrik tentang sesembahan-sesembahan mereka tersebut tidak memberikan manfaat dan bahaya sedikit-pun. Dari mana Ibn Taimiyah berkata semacam ini?! Bukankah ini berarti ia membangkang kepada apa yang telah difirmankah Allah?! Anda lihat lagi ayat lainnya dari firman Allah tentang perkataan-perkataan orang kafir tersebut:

وَجَعَلُوا للهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَاْلأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا للهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَآئِنَا فَمَاكَانَ لِشُرَكَآئِهِمْ فَلاَيَصِلُ إِلَى اللهِ وَمَاكَانَ للهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَآئِهِمْ (الأنعام: 136)

”Lalu mereka berkata sesuai dengan prasangka mereka: ”Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka sajian-sajian yang diperuntukan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukan bagi Allah maka sajian-sajian tersebut sampai kepada berhala mereka” (QS. al-An’am: 136).

Lihat, dalam ayat ini orang-orang musyrik tersebut mendahulukan sesembahan-sesembahan mereka atas Allah dalam perkara-perkara sepele.

Kemudian lihat lagi ayat lainnya tentang keyakinan orang-orang musyrik, Allah berkata kepada mereka:

و َمَانَرَى مَعَكُمْ شُفَعَآءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاؤُا (الأنعام: 94)

”Dan Kami tidak melihat bersama kalian para pemberi syafa’at bagi kalian (sesembahan/berhala) yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu tuhan di antara kamu” (QS. al-An’am: 94).

Dalam ayat ini dengan sangat nyata bahwa orang-orang kafir tersebut berkeyakinan bahwa sesembahan-sesembahan mereka memberikan mafa’at kepada mereka. Itulah sebabnya mengapa mereka mengagung-agungkan berhala-berhala tersebut.

Lihat, apa yang dikatakan Abu Sufyan; ”dedengkot” orang-orang musyrik di saat perang Uhud, ia berteriak: ”U’lu Hubal” (maha agung Hubal), (Hubal adalah salah satu berhala terbesar mereka). Lalu Rasulullah menjawab teriakan Abu Sufyan: ”Allâh A’lâ Wa Ajall” (Allah lebih tinggi derajat-Nya dan lebih Maha Agung).

Anda pahami teks-teks ini semua maka anda akan paham sejauh mana kesesatan mereka yang membagi tauhid kepada dua bagian tersebut! Dan anda akan paham siapa sesungguhnya Ibn Taimiyah yang telah menyamakan antara orang-orang Islam ahli tauhid dengan orang-orang musyrik para penyembah berhala tersebut, yang menurutnya mereka semua sama dalam tauhid Rububiyyah !” Wallahu A’lam.

Labels:

Stop Menyamakan Allah Dengan Mahluknya Yang Membutuhkan Tempat


Allah Itu Ada Tanpa Tempat, Inilah Konsensus Para Sahabat dan Imam

Berikut ini adalah pernyataan para sahabat Rasulullah dan para ulama dari empat madzhab, serta ulama lainya dari kalangan Ahlussunnah wal Jamaah dalam penjelasan kesucian Allah dari menyerupai makhluk-Nya dan penjelasan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah.

Sydina Ali Bin Abi Thalib

1. Al-Imam ‘Ali ibn Abi Thalib (w 40 H) berkata:

كَانَ اللهُ وَلاَ مَكَان وَهُوَ الآنَ عَلَى مَا عَليْه كَانَ

Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, dan Dia Allah sekarang -setelah menciptakan tempat- tetap sebagaimana pada sifat-Nya yang azali; ada tanpa tempat. (Diriwayatkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq Bain al-Firaq, h. 333)

Beliau juga berkata:

إنّ اللهَ خَلَقَ العَرْشَ إْظهَارًا لِقُدْرَتهِ وَلَمْ يَتّخِذْهُ مَكَانًا لِذَاتِهِ

Sesungguhnya Allah menciptakan ‘arsy (makhluk Allah yang paling besar bentuknya) untuk menampakan kekuasaan-Nya, bukan untuk menjadikan tempat bagi Dzat-Nya. (Diriwayatkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq Bain al-Firaq, h. 333)

Imam Zainal Abidin

2. Seorang tabi’in yang agung, Al-Imam Zainal-‘Abidin ‘Ali ibn al-Husain ibn ‘Ali ibn Abi Thalib (w 94 H) berkata:

أنْتَ اللهُ الّذِي لاَ يَحْويْكَ مَكَانٌ

Engkau wahai Allah yang tidak diliputi oleh tempat. (Diriwayatkan oleh al-Imam Murtadla az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin, j. 4, h. 380)

Juga berkata:

أنْتَ اللهُ الّذِي لاَ تُحَدُّ فَتَكُوْنَ مَحْدُوْدًا

Engkau wahai Allah yang maha suci dari segala bentuk dan ukuran. (Diriwayatkan oleh al-Imam Murtadla az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin, j. 4, h. 380)

Imam Ja'far As-Shadiq

3. Al-Imam Ja’far as-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir ibn ibn Zainal ‘Abidin ‘Ali ibn al-Husain (w 148 H) berkata:

مَنْ زَعَمَ أنّ اللهَ فِي شَىءٍ أوْ مِنْ شَىءٍ أوْ عَلَى شَىءٍ فَقَدْ أشْرَكَ، إذْ لَوْ كَانَ عَلَى شَىءٍلَكَانَ مَحْمُوْلاً وَلَوْ كَانَ فِي شَىءٍ لَكَانَ مَحْصُوْرًا وَلَوْ كَانَ مِنْ شَىءٍ لَكَانَ مُحْدَثًا (أىْ مَخْلُوْقًا)

Barang siapa berkeyakinan bahwa Allah berada di dalam sesuatu, atau dari sesuatu, atau di atas sesuatu maka ia adalah seorang yang musyrik. Karena jika Allah berada di atas sesuatu maka berarti Dia diangkat, dan bila berada di dalam sesuatu berarti Dia terbatas, dan bila Dia dari sesuatu maka berarti Dia baharu -makhluk-. (Diriwayatkan oleh al-Imam al-Qusyairi dalam ar-Risalah al-Qusyairiyyah, h. 6)

Imam Abu Hanifah

4. Al-Imam al-Mujtahid Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit (w 150 H), salah seorang ulama salaf terkemuka, perintis madzhab Hanafi, berkata:

وَاللهُ تَعَالى يُرَى فِي الآخِرَة، وَيَرَاهُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَهُمْ فِي الْجَنّةِ بِأعْيُنِ رُؤُوسِهِمْ بلاَ تَشْبِيْهٍ وَلاَ كَمِّيَّةٍ وَلاَ يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ خَلْقِهِ مَسَافَة.

Allah ta’ala di akhirat kelak akan dilihat. Orang-orang mukmin akan melihat-Nya ketika mereka di surga dengan mata kepala mereka masing-masing dengan tanpa adanya keserupaan bagi-Nya, bukan sebagai bentuk yang berukuran, dan tidak ada jarak antara mereka dengan Allah (artinya bahwa Allah ada tanpa tempat, tidak di dalam atau di luar surga, tidak di atas, bawah, belakang, depan, samping kanan ataupun samping kiri). (Lihat al-Fiqhul Akbar karya Imam Abu Hanifah dengan Syarahnya karya Mulla ‘Ali al-Qari, h. 136-137)

Imam Ibnu Idris As-Syafi'i

5. Al-Imam al-Mujtahid Muhammad ibn Idris as-Syafi’i (w 204 H), perintis madzhab Syafi’i, dalam salah satu kitab karyanya, al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, menuliskan:

(فصل) وَاعْلَمُوْا أنّ اللهَ تَعَالَى لاَ مَكَانَ لَهُ، وَالدّلِيْلُ عَلَيْهِ هُوَ أنّ اللهَ تَعَالَى كَانَ وَلاَ مَكَانَ فَخَلَقَ الْمَكَانَ وَهُوَ عَلَى صِفَةِ الأزَلِيّةِ كَمَا كَانَ قَبْلَ خَلْقِهِ الْمَكَانَ لاَ يَجُوْزُ عَلَيْهِ التَّغَيُّرُ فِي ذَاتِهِِ وَلاَ التَّبَدُّلُ فِي صِفَاتِهِ، وَلأنّ مَنْ لَهُ مَكَانٌ فَلَهُ تَحْتٌ، وَمَنْ لَهُ تَحْتٌ يَكُوْنُ مُتَنَاهِي الذّاتِ مَحْدُوْدًا، وَالْمَحْدُوْدُ مَخْلُوْقٌ، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذلِكَ عُلُوّا كَبِيْرًا، ولِهذَا الْمَعْنَى اسْتَحَالَ عَليْه الزّوْجَةُ وَالوَلدُ، لأنّ ذلِك لاَ يَتِمّ إلاّ بالْمُبَاشَرَةِ والاتّصَالِ والانْفِصَال.

Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat. Argumentasi atas ini ialah bahwa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Maka setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang azali sebelum Dia menciptakan tempat; yaitu ada tanpa temapt. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik perubahan pada Dzat-Nya maupun pad asifat-sifat-Nya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah. Dan bila demikian maka ia pasti memiliki bentuk tubuh dan batasan. Dan sesuatu yang memiliki batasan pasti sebagai makhluk, dan Allah maha suci dari pada itu semua. Karena itu mustahil pada haknya terdapat istri dan anak. Sebab hal semacam itu tidak akan terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel dan terpisah. Allah mustahil pada-Nya sifat terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya istilah suami, astri dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil. (Lihat al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 13)

Imam Ahmad Bin Hanbal

6. Al-Imam al-Mujtahid Abu ‘Abdillah Ahmad ibn Hanbal (w 241 H), perintis madzhab Hanbali, juga seorang Imam yang agung ahli tauhid. Beliau mensucikan Allah dari tempat dan arah.

Bahkan beliau adalah salah seorang terkemuka dalam akidah tanzih. Dalam pada ini as-Syaikh Ibn Hajar al-Haitami menuliskan:

وَمَا اشْتُهِرَ بَيْنَ جَهَلَةِ الْمَنْسُوْبِيْنَ إلَى هذَا الإمَامِ الأعْظَمِ الْمُجْتَهِدِ مِنْ أنّهُ قَائِلٌ بِشَىءٍ مِنَ الْجِهَةِ أوْ نَحْوِهَا فَكَذِبٌ وَبُهْتَانٌ وَافْتِرَاءٌ عَلَيْهِ

Apa yang tersebar di kalangan orang-orang bodoh yang menisbatkan dirinya kepada madzhab Hanbali bahwa beliau telah menetapkan adanya tempat dan arah bagi Allah, maka sungguh hal tersebut adalah merupakan kedustaan dan kebohongan besar atasnya. (Lihat Ibn Hajar al-Haitami dalam al-Fatawa al-Haditsiyyah, h. 144)

Wallahu A’lam Bisshowaab

Labels: