Monday, 31 May 2021

Wahabi bukanlah Ahlus Sunnah Tetapi Ahlul Fitnah


Ada beberapa point bahwa wahabi adalah Ahlul fitnah dan bukanlah seorang ahlus sunnah, dan berikut akan saya kutipkan berdasarkan fakta di lapangan.

Wahabi Alhul Fitnah dari Najd

1. Wahabi menuduh semua orang yg mengkiritik pemahamannya yang salah sebagai syiah tanpa pernah bisa membuktikan seseorang itu syiah. Maka wahabi ahlul fitnah.

2. Wahabi menuduh semua orang diluar golongannya sebagai Ahlul bid'ah tetapi tidak bisa membuktikan secara valid dasar hukumnya bahkan tidak bisa menyanggah tanggapan rinci seseorang.maka wahabi ahlul fitnah.

3. Wahabi menuduh semua orang telah berbuat syirik selain mereka, tetapi tidak bisa membuktikan seseorang itu benar benar berbuat syirik apa tidak. Maka wahabi ahlul fitnah.

4. Ulama wahabi terbukti banyak memalsukan kitab kitab ulama salaf, di ubah, disunting, di hapus, ditambahi, di cetak baru dan pemalsuan ilmu adalah memfitnah ulama salaf dan semua umat islam. Maka wahabi ahlul fitnah.

5. Wahabi membuat karangan karangan sejarah palsu, dongeng macam rustum buat menipu orang maka wahabi ahlul fitnah.

6. Wahabi selalu bicara sesuai sunnah dan hadits shoheh, tetapi banyak fakta justru mereka menggunakan beberapa hadits, riwayat palsu dan cuma mengandalkan Albani yang terbukti plin plan mencap hadits disesuaikan dengan paham wahabi. Maka wahabi ahlul fitnah.

Doktrin Wahabi Salafi

Pengekor wahabi dalam dakwah selalu mengandalkan kitab services ulamanya saja. Ia tidak tahu apa isinya sudah benar benar di akui ulama dunia atau cuma golongannya saja. Cermati kitabnya jika mereka share/copas). Mereka mengira kitab ulamanya yang bukan salaf itu jadi panutan umat islam, Berbohong. Maka wahabi ahlul fitnah.

Kebanyakan pengekor wahabi di doktrin ustadz-ustadznya untuk tidak  bercampur di luar golonganya. Dan kebanyakan ustadz-ustadz wahabi mengincar perempuan perempuan bodoh yang nyaris lupa agama, jarang ngaji dan kemudian serasa dapat hidayah oleh tauziah ustadznya yang belagak alim sejagat tapi ujungnya getol ngomong poligami.

Perempuan inilah yang banyak buta kebenaran sebenarnya dan ikut-ikut latah teriak syiah, bidah, syrik, copas sana sini padahal ilmunya nol besar. Wanita inilah ahlul fitnah.

Meraka rata-rata yang terjebak masuk wahabi adalah kaum dangkal ilmu agama, kemudian diajak ngaji dauroh secara diam-diam atau di rayu temanya yang duluan masuk wahabi. Alhasil baru ikut berapa kali, dapet ceramah, diberi kitab service nonton youtube,  mulai lagak dapat hidayah Berceloteh bak alim bak ulama jadi ustadz-ustadzah dadakan dan ini yang di sebut doktrin agama. mereka ini adalah kaum ahlul fitnah, diajak diskusi planga-plongo paling banter ilmu copas atau teriak teriak syiah laknatullah. 

Seseorang yang memfinah orang lain tanpa bukti, penelitian, fakta dan petunjuk jelas secara nyata maka ia bukan ahlus sunnah tetapi ahlul fitnah.

Ahli sunnah sejati tidak gampang menuduh seseorang sembarangan bahkan hati-hati jika menuduh seseorang guna menghindari perbuatan fitnah..

Dan wahabi terbalik bahkan melawan sunnah untuk hati-hati terhadap lisan dan fitnah. Maka wahabi bukan tabiat ahli sunnah tetapi tabiat ahli fitnah.

Cocok sekali dengan hadits Rasullah bahwa di akhir zaman akan ada golongan yang meerasa alim tapi ngaji nggak sampai tenggorokan, atau ahlul fitnah tanduk sytan dari najd.

Semoga kita semua tidak tertular golongan ahlul fitnah ini, waspada karena mereka duri dalam daging, bersembunyi di balik label manhaj salaf yang kenyataanya mereka inilah musuh perusak keutuhan Islam.
Semoga bermanfaat

Labels:

Thursday, 27 May 2021

Belajar Mengenal dan Memahami Kalimat Bid'ah


Kalimat bid'ah (بدعة) di sini adalah bentuk ISIM (Kata Benda) bukan FI'IL (Kata Kerja).

Dalam ilmu nahwu menurut kategorinya Isim terbagi 2 yakni Isim Ma'rifat (Tertentu) dan Isim Nakirah (Umum).

Nah.. kata Bid'ah ini bukanlah :

  • 1. Isim dhomir.
  • 2. Isim alam.
  • 3. Isim isyaroh.
  • 4. Isim maushul.
  • 5. Ber alif lam.
Yang merupakan bagian dari Isim Ma'rifat.

Jadi kalimat bid'ah di sini adalah Isim Nakiroh dan Kullu di sana berarti tidak ber-idhofah (Bersandar) kepada salah satu dari yang 5 di atas. Seandainya Kullu ber-idhofah kepada salah satu yang 5 di atas, maka ia akan menjadi ma'rifat. Tapi pada 'Kullu Bid'ah', ia ber-idhofah kepada nakiroh. Sehingga dhalalah-nya adalah bersifat ‘am (umum). Sedangkan setiap hal yang bersifat umum pastilah menerima pengecualian.

Ulama yang sholeh, bersanad ilmu tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seperti Imam Nawawi ra yang bermazhab Syafi'i mengatakan.

قَوْلُهُ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ هَذَاعَامٌّ مَخْصٍُوْصٌ وَالْمُرَادُ غَالِبُ الْبِدَعِ

“Sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam, “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah ‘Amm Makhshush, kata-kata umum yang dibatasi jangkauannya. Jadi yang dimaksud adalah sebagian besar bid’ah itu sesat, bukan seluruhnya.” (Syarh Shahih Muslim, 6/154).

Hadits “Kullu Bid’ah dlalalah” berdasarkan ilmu atau menurut tata bahasanya ialah ‘Amm Makhshush, artinya “makna bid’ah lebih luas dari makna sesat” sehingga “setiap sesat adalah bid’ah akan tetapi tidak setiap bid’ah adalah sesat”.

Sebagian ulama berpendapat bahwa pengecualian itu pada perkara baru "urusan dunia" atau bid’ah duniawiyyah.

Sangat keliru jika berpendapat bahwa bid'ah yang diperbolehkan atau bid'ah yang tidak masuk neraka adalah bid'ah urusan dunia (bid’ah duniawiyyah) karena bid'ah urusan dunia (bid’ah duniawiyyah) ada yang hasanah (baik) dan ada pula yang sayyiah (buruk).

Semoga bermanfaat.


Labels:

Tuesday, 18 May 2021

Penyakit Ghurur, Apa Itu Penyakit Ghurur? Berikut Penjelasanya!


Ghurur adalah penyakit hati yang menimpa banyak orang di dunia ini, ghurur dalam bahasa kitanya adalah tertipu daya, penyakit ghurur ini telah di jelaskan oleh Imam Ghazali dengan
panjang luas sekali di dalam kitabnya "Ihya` Ulumuddin ", penyakit ghurur ini sangat membahayakan sekali sebab kebanyakkan orang yang menderitanya tidak merasakan bahwa mereka terserang penyakit ghurur, kita tidak memebicarakan ghururnya orang-orang kafir terhadap diri mereka atau kehidupan dunia ini, tetapi kita membicarakan penyakit ghurur yang diderita oleh umat islam selama ini.

Imam Ghazali Telah Membagi Ghurur ini Kepada Empat Golongan:

  • 1. Golongan ulama.
  • 2. Golongan para Abid ( orang yang suka beribadah).
  • 3. Golongan orang yang mengaku sufi.
  • 4. Golongan orang yang memiliki harta , dan orang-orang tetipu daya dengan dunia.


1. Golongan Ulama

Penyakit ghurur ini tidak terlepas dari hati seorang ulama, bahayanya jika mereka tidak
mengetahui bahwa mereka telah terkena virus ghurur yang membahayakan, sehigga tidak
mencoba untuk secepatnya mengobati penyakit itu, penyakit ghurur ini menyerang dengan cepat sehingga sipenyakit mati dari rasa harapan dan kesadaran diri kepda Allah.

Seorang yang alim merasa bahwa ilmu itu adalah muliya, mengajarkannya kepada orang adalah perkara yang mulia pula, maka dia lalai dan tertipu daya dengan sibuk mengajarkan ilmu tanpa membekalkan amal ibadah dan mengamalkannya terlebih dahulu sebelum disampaikan kepada orang lain, ini adalah penyakit ghurur.

Seorang yang alim merasa memiliki ilmu sehingga beliau merasa bahwa di mesti di hormati dan disegani, ingin selalu dikedepannkan dan di ketenganhkan, keinginannya agar seluruh perkatannya didengar, seluruh perkataannya benar, ingin diangkat-angkat dan dipuja-puja, setiap orang mesti mencium tangannya, ini adalah penyakit ghurur.

Seorang ulama yang alim dengan ilmu syari`at dan selalu mengamalkannya kemudian
mengajarkannya kepada orang lain, tetapi beliau tidak memahami ilmu makrifat kepada Allah, dengan alasan bahwa tidak ada ilmu tersebut, maka ini juga bahagian orang yang memilki penyakit ghurur.

Seorang yang berhasil mengamalkan ilmunya , menjauhkan anggota tubuhnya dari segala
maksiat, melaksanakan segala amalan ta`at, tetapi lupa membersihkan dirinya dan hatinya dari segala maksiat hati seperti hasad, riya`, takabbur, ini juga orang yang terserang penyakit ghurur.

Seorang ulama yang mengamalkan segala ta`at dan menjauhkan segala maksiat, beliau merasa
bahwa dirinya bersih dan dekat dengan Allah, maka ini juga penyakit ghurur, sebab Allah lebih
mengtahui keadaan hati para hambanya.

Seorang ulama yang sibuk dengan berjidal, berdebat, bukan untuk mencari kebenaran tetapi untuk mencari ketenaran dan kehebatan, bila mampu mengalahkan lawan maka dia tergolong orang yang hebat dan alim, ini juga tergolong penyakit ghurur.

Seorang ulama yang selalu berdakwah dan berceramah dengan menyampaikan untaian kata-kata yang indah, dapat menarik perhatian para pendengar, sehingga mendatangkan peminat-peminat yang banyak, pengikut yang setia, lupa dengan tujuan dakwah yang sebenarnya, sibuk hanya mencari ketenaran dan nama, penyakit ini juga tergolong ghurur.

2. Golongan Abid

Pentas ibadah juga dapat membawa seseorang tertipu daya dengan diri sendiri sehingga bukan
menjadikan diri semngkin dekat dengan Allah bahkan membuat diri menjadi jauh, diantara semisalnya :

Seseorang yang sibuk dengan ibadah-ibadah sunnah dan fadhilah tetapi melupakan dan
meninggalkan ibadah-ibadah wajib, sibuk melaksanakan shalat malam tetapi meninggalkan shalat subuh karena ketiduran dan kelelahan ketika waktu malamnya.

Ada orang yang sibuk mengambil wudhu` dan berlebih-lebihan didalam membasuhnya
disebabkan was-was yang datang didalam hati mengkhabarkan bahwa wudhu`nya tidak sah,
penyakit was-was yang menimpa pada setiap ibadah merupakan bahagian ghurur juga.

Seseorang yang terlalu sibuk membaca al-Qur`an sehingga dia khatamkan hanya sehari satu malam saja, tetapi tanpa memikirkan dan memahami segala makna-maknanya, sehingga
menghasilkan pemahaman dan pengertian yang benar.

Seseorang yang sibuk dengan puasa setiap harinya, tetapi lidahnya selalui menceritakan aib orang lain, tidak pernah menjauhkan hatinya dari riya` dan penyakit-penyakit hati, puasanya selalu dibuka dengan makanan-makanan yang haram.

Seseorang yang menunaikan ibadah haji hanya karena ingin digelar dengan haji, tidak
mengikhlaskan diri untuk melaksankan amal ibadah haji, tidak meninggalkan segala kejahatankejahatan, melaksanakan ibadah haji agar dipandang orang dan dianggap orang kaya.
Seseorang yang mengamalkan Ibadah sunnah dan fadhilah merasakan ibadah tersebut nikmat
dan lezat, mendapatkan ke khusukkan, tetapi jika melaksanakan ibadah yang wajib dan fardhu tidak merasakan kenikmatan dan kekhusukkan.

Seseorang yang melaksanakan zuhud dan ibadah , bertaubat dan berzikir, merasakan bahwa dia telah sampai kepda derajat kezuhudan, telah sampai kepda derajat makrifah kepada Allah, padahal hatinya masih tersimpan segudang kecintaan terhadap dunia, mengaharap pangkat dan kedudukkan, mengharap pujian dan penghormatan.

3. Golongan Orang Yang Mengaku Sufi

Seseorang yang mengaku sufi, menggunakan pakaian-pakaian tertentu, bergaya dengan gaya
ulama-ulama sufi, berzikir dengan menari dan nyanyian-nyanyian pemenuh hawa nafsu,
menganggap diri telah sampai kepada Allah, menganggap mendapat ilham dan kasyaf.
Seorang yang mengaku sufi, merasa telah berbuat zuhud dan wara`, memakai pakaian yang usang dan bau, mementingkan bersih hati, tetapi segala anggota tubuh kotor dengan maksiat dan dosa.

Seseorang yang mengaku sufi, tetapi tidak mengikuti jalan para ulama-ulama pembesar sufi seperti Imam Zunaid dan yang lainnya, mengaku telah sampai kepada fana` fillah dan baqa fi llah, tidak menjadikan al-Qur`an dan sunnah sebagai pegangan, menghina syariat dan memuja-muja hakikat.

4. Golongan Orang yang Memiliki Harta dan Orang yang Tertipu Daya Dengan Dunia

Seseorang yang menganggap bahwa harta dan duitnya yang mampu menyelamatkannya dan
memuliakannya di permukaan dunia ini, harta merupakan pujaan dan ketinggian, memiliki harta berarti memiliki kebesaran dan kesenangan yang hakiki, sehingga lupa membayar zakat, menyantuni orang miskin, berbuat sesuka hatinya.

Seseorang yang membangun masjid, menyantun anak yatim, membantu korban bencana alam,
tetapi ingin di puji dan di besar-besarkan kebaikkannya, agar orang menyanjungnya dan
menggelarnya seorang yang dermawan.
Masih banyak lagi misal-misal penyakit ghurur , tetapi saya cukupkan sampai di sini saja.

Dan kesimpulanya adalah, jika sekelas ulama, ahli ibadah, dan golongan sufi saja bisa terkena penyakit ghurur, apa lagi kita yang awamer ini, mari kita membenahi diri kita masing-masing belajar mengolah hati.

Dengan memahami hal yang demikian, semoga kita semua tidak termasuk golongan orang-orang yang terkena penyakit ghurur (tipu daya) penyakit yang menjadikan seorang hamba jauh dari ridlo Allah Ta'ala.

Semoga kita bisa terus istiqomah dan mengetahui bisikan nafsu didalam diri ini. dan Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat ghuyur ini.

Labels: